2026-09-18
MIEF, MIGL — Make it exist first, make it good later.
Ya, itu adalah kalimat yang saya dengar dari seorang seniman, “Buat aja dulu, nanti bisa diperbaiki”.
Awalnya, saya pikir kalimat ini hanya relate dengan pekerjaan di bidang kreatif. Namun, setelah saya coba kontemplasi dan memikirkannya, ternyata kalimat ini masih relate dengan berbagai hal yang ada di keseharian saya.
Misalnya, ketika menggoreng telur ceplok untuk sarapan, kadang saya hanya menambahkan sedikit garam, ternyata setelah matang dan saya coba icip, masih kurang asin, otomatis saya menambah sedikit garam agar pas dengan lidah saya. Jika dipikir kembali, sekilas saya telah menerapkan “make it exist first, make it good later”, mungkin...
Dari hal sederhana tadi, saya berpikir bahwa konsep ini sebenarnya banyak sekali dijumpai di sekeliling kita. Misalnya, dulu rumah lantainya tanah, setelah cukup uang untuk renovasi diganti dengan ubin/keramik. Kalimat tadi juga mengisyaratkan kita bahwa tidak semuanya harus sempurna atau memukau di awal, yang penting ada dan berfungsi dulu, toh nanti bisa diperbaiki.
Terkadang pemikiran “harus bagus di awal” seringkali membuat saya stuck. Misal, ketika mendesain poster, saya selalu bingung bagaimana layout yang bagus, color palette yang cocok, dan typography yang engaging, seakan saya harus bisa menemukan dan membuat kombinasi itu semua di awal. Padahal, saya bisa saja memulai dari hal yang sederhana seperti membuat halaman/kanvas posternya, meringkas brief design agar lebih pas, atau sekadar menduplikat halaman sejumlah output slide yang diinginkan. Buat aja dulu (filenya), nanti bisa diperbaiki (revisi).
/ dhimashdr
2026